Sabtu, 12 Februari 2011

Budidaya Kelinci, Hobi yang Berbuah Rupiah

Budidaya Kelinci, Untung Rp12,5 Juta per Bulan
10:06, 19/05/2010
 
Urin dan Kotoran Nambah Omzet. Bulu halus, telinga panjang, matanya yang bulat dan lompatannya yang lincah adalah ciri khas dari binatang kelinci. Binatang satu ini tak hanya asyik dipandang karena bentuk wajahnya yang lucu, tapi juga bisa mendatangkan rupiah jika diternakkan.

Seperti yang dilakukan Jamin Purba, (34) warga di Gg Rukun Jalan Udara, Kelurahan Gundaling 1 Berastagi, Kecamatan Berastagi, sejak April 2004 lalu ia beternak kelinci, mulai dari kelinci lokal hingga jenis ras.

Pria yang akrab disapa dengan nama Jamin ini, awalnya merintis ternak kelincinya bermodalkan Rp8 juta saja. Modal sebesar itu dipinjamnya dari keluarga untuk membeli anak kelinci sebanyak 126 ekor dengan harga per ekornya Rp11 ribu. Modal itu juga digunakan untuk membuat dua postal (kandang) kelinci ukuran 9 X 11 meter.

Mengawali usahanya itu, Jamin melakukan peternakan kelinci untuk dijual kembali ke agen kelinci setempat. Dalam tempo delapan bulan saja, 126 kelinci yang dibelinya berkembang biak menjadi lima kali lipat jumlahnya. “Ketika itu saya hanya membeli 26 pejantan, sisanya betina. Rata-rata betina melahirkan lima anak,” kata pria kelahiran 10 April 1976.Ketika itu, Jamin memperoleh omzet Rp5 juta dari penjualan perdananya. Yakni, 500 anak kelinci yang per ekornya dipatok harga Rp10 ribu. Setelah penjualan perdana, Jamin yang merupakan alumni Fakultas Pertanian, jurusan Peternakan USU ini tahun 2004 silam ini kemudian mencoba lebih serius mengembangkan usahanya.

“Keturunan anak kelinci pertama saya sengaja saya jual semuanya karena kualitasnya menjadi bakal induk belum layak. Kalau keturunan kedua tidak saya jual karena bakal calon induk bia berkualitas,” ujar pria yang masih melajang ini.

Delapan bulan pasca penjualan perdananya, jumlah kelinci Jamin meningkat pesat. Setelah anak-anak kelinci tumbuh sehat menjadi induk, akhirnya ia memutuskan menjadi peternak kelinci. “Tidak hanya kelinci lokal saja, tapi anak (bibit) kelinci ras saya datangkan dari Pulau Jawa,” ujarnya.


Dua tahun beternak kelinci, barulah tahun 2006 dirinya mencoba menggabungkan dua jenis kelinci untuk dibudidayakan. Saat itu ia membeli anak kelinci ras usia satu bulan   seharga Rp80 ribu per ekor.

“Sekarang jenis kelinci ras yang saya kembangkan seperti Anggora, Lion, Fuji Lop, English Spot, Vlamm Serrus, Dutch, Rex, Satin, dan Dwarf  (jenis kelinci kecil/mini),” kata dia.

Menjadi peternak kelinci, Jamin harus tahu cara mendapatkan kualitas anak kelici yang unggul. “Kalau  mengawinkannya tentu harus tahu kualitas induknya. Saya tidak mau sembarangan dalam hal ini, jika induk dalam kondisi tidak fit, maka proses perkawinan akan ditunda hingga induk sehat,” bilangnya.

Walau jarang kesulitan pemasaran, namun ia tidak menampik ada saat tertentu permintaan menurun. Hal itu dikarenakan belum adanya pemasaran yang tetap ke hotel berbintang dan rumah makan kelas atas.

Selain penjualan daging, kotoran serta urine kelinci juga bisa menghasilkan rupiah. “Intergrasi kelinci ke pertanian itu ada. Urine-nya dapat digunakan sebagai pengganti urea (zat daun) sementara kotorannya sebagai pupuk kandang. Produksi urine kelinci saya per 100 ekor setiap hari mencapai 20 liter urine,” tuturnya.

Setiap liter urine kelinci, kata Jamin, harganya dijual Rp1.000. Sedangkan kotoran kelinci berjumlah 100 ekor, bisa menghasilkan 2 ton pupuk kandang (kompos) per bulan dengan harga Rp3.000 per goni ukuran 50 Kg.

Melihat pangsa pasar kelinci ras yang lebih menjanjikan, Jamin pun saat ini mulai merubah sistem peternakan kelinci, khususnya jenis kelinci ras.

“Sekarang ada sekitar  250 indukan. Kita bagi dua fasenya, per bulan seratus induk saja melahirkan. Rata-rata melahirkan lima anak. Bila dikalkulasikan berarti 500 anak dijual Rp 12,5 juta karena per ekornya Rp25 ribu. Keuntungan ditambah lagi dengan penjulan urine dan kotorannya,” pungkasnya tersenyum. (wan)


Kelinci Ras Jadi Unggulan. Meski terbilang masih baru menjadi peternak kelinci, namun Jamin Purba menjadikan kelinci ras sebagai unggulannya.

Ini karena kelinci ras memiliki berat badan/tubuh yang lebih besar dari kelinci lokal, ditambah lagi pasarnya cukup diminati. “Ini karena permintaan kelinci ras selalu tinggi,” ujar Jamin Purba yang ditemui, Selasa (28/5) siang di Rukun Farm (peternakan) miliknya, di kawasan Gg Rukun, Jalan Udara, kelurahan Gundaling I Berastagi, kecamatan Berastagi.

Kelinci ras bila diperhatikan sepintas, tak jauh berbeda dengan kelinci lokal. Tetapi ukuran besar badan serta bulu menjadi faktor dominan cirinya. Kelinci ras memiliki bulu yang  lebat, khususnya ras jenis Anggora. Hal ini tentunya membuat perbedaan yang signifikan dengan kelinci kampong.

Dari sembilan jenis kelinci ras yang  diternakan, ada satu jenis kelinci ras yang berukuran kecil, yaitu Dwarf dengan berat 1-2 Kg. Sementara ukuran besar adalah, English Spot beratnya 4-5 kilogram, dan Vlamm Serrus beratnya mencapai 5-6 kilogram.

Namun sejauh ini, Jamin mengaku pemasaran kelinci lokal maupun ras masih  sebatas dalam negeri. Walau demikian diakuinya tetap kewalahan menerima orderan dari luar  daerah, semisal Medan, Deli Serdang, Binjai, Langkat, Simalungun, Aceh, Padang Pekan Baru, dan Batam.

Dalam hal pemasaran jenis kelinci ras, Jamin mengatakan kalau jenis Aggora, Lion, Fuji Lop, English Spot, Vlamm Serrus, Dutch, Rex, Satin, Dwarf dipatok dengan berbeda harga sesuai dengan beratnya.

Untuk usia 1 bulan dijual  Rp50 ribu, usia 3-6 bulan (sebutan dere, dara, gadis) dijual Rp250 ribu, usia 7-8 bulan (dewasa) dijual Rp 600 ribu.

“Sementara kelinci lokal, usia 1 bulan dijual Rp15 ribu, usia 3-6 bulan dijual Rp60 ribu, usia 7-8 bulan (dewasa) berat 2,5 -3 kg dijual Rp 120 ribu,” tuturnya.

Dikatakannya, kelinci ras memiliki ciri khas tersendiri. Untuk ras Rex memiliki bulu yang halus dan dapat digunakan sebagai bahan tekstil. Jenis ras Satin memiliki warna mengkilap dan bulu semi halus.

Kalau jenis Dwarf berukuran kecil tetapi lincah. Anggora dengan ciri  berbulu tebal dan butuh  pengguntungan/pangkas 4-6 sekali. Kelinci Lop memiliki kuping tenggerai jatuh ke bawah, kalau jenis Lion mirip seperti Anggora. “Harga jual dengan kelinci lokal lebih tinggi kelinci ras,” pungkasnya. (wan)

Paling Penting Kesehatan Induk dan Pejantannya. Setelah merawat kelinci hingga tumbuh besar, khususnya jenis ras, mungkin tumbuh keinginan untuk mengawinkannya hingga mendapat keturunan kelinci yang banyak.

Nah, yang harus diperhatikan saat hendak mengawinkan kelinci adalah kondisi kesehatan induk dan pejantan. Dalam hal ini induk berusia minimal enam bulan dan pejantan usia 7 bulan. “Tidak terkontaminasi penyakit, seperti Scabies (kutu dibawah kulit) dan mencret. Karena apabila kedua penyakit tersebut diderita induk, dikhawatirkan anak yang dihasilkan tidak maksimal,” kata Jamin Purba.

Dikatakannya, langkah pertama yang dilakukan adalah memilih induk dan pejantan yang sehat. Setelah itu, induk betina diangkat ke kandang pejantan untuk di kawinkan. Dalam waktu sekitar 7 menit, pejantan akan mengawini induk sebanyak tiga kali.

Usai itu, sambungnya, induk dikembalikan ke kandangnya. Pejantan yang baru dikawinkan baru dapat dikawinkan kembali tiga hari berikutnya dengan induk lain. Sementara, induk yang telah dikawinkan tidak boleh dikawinkan lagi (hanya satu fase).

“Jika pejantan yang dipindahkan ke kandang betina, maka akan membutuhkan waktu lama. Karena pejantan akan menyesuaikan lingkungan kandang yang baru,” paparnya.
Tapi, bila betinanya yang dipindah ke kandang pejantan, maka pejantan segera mengawininya. Bahkan proses kawin bisa sampai tiga kali dalam waktu tujuh menit. “Berhenti, makan sejenak lalu kawin lagi. Makanya, simbol kelinci dipakai sebagai lambang Play Boy,” katanya tersenyum.

Dalam proses perkawinan kelinci, kata dia, sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari. Hal tersebut guna mengindari gerah dan teriknya panas matahari. Jika cuaca panas, maka umumnya kelinci enggan untuk kawin. “Jika siang hari, kelinci malas kawin. Pejantan dan betina akan makan saja, atau melompat lompat,” katanya lagi.

Sedangkan masa hamil induk kelinci terjadi satu bulan setelah proses kawin. Biasanya jelang melahirkan, induk kelinci menggugurkan bulunya untuk tempat anaknya.

Setelah menggugurkan bulu, sekitar satu jam si induk kelinci akan melahirkan anaknya. “Masa menyusui kelinci sekitar 42 hari, namun dapat dipisah setelah usia 1 bulan. Karena usia satu bulan anak kelinci telah mandiri dan resisten (kebal) terhadap daun hijau,” bilangnya.

Setelah pemisahan induk dan anak, sambung Jamin, tiga hari kemudian induk sudah dapat dikawinkan kembali dengan pejantan.  Bahkan, kalau induk sehat, sehari setelah pemisahan dapat segera dikawinkan.

Sedangkan anak kelinci yang baru dipisah dari induknya, dapat dikawinkan setelah usia delapan bulan. “Perbandingannya, satu jantan mampu mengawini 10 ekor betina. Jadi tidak perlu terlalu banyak memelihara kelinci jantan. Namun pejantan harus kita selesi yang terbaik,” paparnya.

Agar kelinci merasa nyaman, harus menempatkan kandang yang sesuai. Ukuran kandang dewasa dengan lebar 75 cm, lebar 80 cm dan tinggi 65 cm. Namun biasanya setiap ukuran kandang diperlakukan sama baik bagi kelinci anakan.  “Dalam prakteknya, kelinci yang belum dewasa di taruh dua atau tiga ekor dalam satu kandang. Setelah dewasa barulah dipisah menjadi satu setiap postal,” tambahnya.

Selain itu, sanitasi kandang harus diperhatikan dan dibersihkan setiap hari agar kelinci terhindar penyakit. Pemberian makanan (daun hijau), tidak boleh yang basah/terkena air karena kelinci bisa masuk angin atau korengan di bagian bibir, dan rentan kematian. (wan)

Sumber: Harian Sumut Pos

Budidaya Kelinci Hias, Hobi yang Berbuah Rupiah
Sabtu, 05 Februari 2011 10:40

Yanti Dwimayanti, warga Kelurahan Cipinang Melayu Jatiwaringin Jakarta Timur ini, awalnya tidak pernah berniat menjadikan kelinci sebagai komoditas bisnis. Sebelumnya dia lebih tertarik memelihara kelinci sebagai hobi .

“Awalnya saya membeli kelinci untuk anak saya. Kebetulan kita sekeluarga senang dan merawat kelinci. Tak disangka kelinci yang kita pelihara menghasilkan anak. Saudara-saudara dan teman-teman saya banyak yang tertarik dan kemudian membeli beberapa kelinci yang kita punya. Sejak saat itu, banyak orang tahu dan berminat datang ke saya untuk membeli kelinci. Dari situlah saya berpikir untuk membuka usaha menjual kelinci hias”, ujar wanita kelahiran Jakarta, 26 Maret 1966 ini.

Menurut pengalaman Yanti, usaha ternak kelinci hias akan balik modal dalam waktu 6 bulan sampai satu tahun. Skala peternakannya minimal 100 ekor kelinci betina dan 10 ekor kelinci jantan.

Sejak tahun 2005, Yanti memulai bisnisnya dengan menggunakan nama dagang Riponti Rabbit. Dia memulai usahanya dengan modal yang tidak terlalu besar, hanya Rp. 500.000. Modal tersebut digunakannya untuk membeli sepasang kelinci hias, kandang, dan pakan. Dia mendapatkan kelinci-kelinci tersebut dari daerah Lembang, Bandung.

Saat Kantor Berita Sinar Tani berkunjung ke kediaman sekaligus peternakannya beberapa hari yang lalu, Yanti telah memiliki seratus ekor lebih kelinci hias. Kelinci-kelinci tersebut dipisahkan menurut jenisnya di dalam kandang-kandang kayu berjeruji kawat. Kandang-kandang kelinci itu disusun bertingkat-tingkat di halaman belakang rumah seluas 75 m2. Kelinci hias yang dipeliharanya beraneka jenis. “Jenis kelinci hias yang saya kembangbiakkan di antaranya. Angora, Himalayan, Lop, Rex, Netherland Dwarf, Flemish Giant, dan Rhinelander”, ujarnya.

Kelinci merupakan salah satu jenis binatang peliharaan yang banyak ditemui saat ini. Bentuknya yang lucu dan menggemaskan memang menarik minat orang, termasuk anak-anak.

Sebagian orang memelihara kelinci untuk dibudidayakan. Kelinci merupakan binatang ternak yang mudah dipelihara dan dirawat. Harganya yang murah pun menjadi faktor utama. Kelinci mampu berkembang pesat, karena itulah kelinci memiliki ciri khas menjadi salah satu binatang yang produksinya besar.

Dilihat dari nilai ekonomisnya, beternak kelinci sangatlah menguntungkan dan berisiko kecil. Jadi dapat dikatakan, budidaya kelinci merupakan salah satu pilihan para peternak binatang saat ini.

Budidaya kelinci biasanya dilakukan dengan beberapa tujuan, beberapa di antaranya adalah sebagai kelinci hias dan kelinci pedaging. Kelinci hias biasanya dipelihara dan dikawinkan dengan beberapa jenis keturunan kelinci agar didapatkan keturunan yang bagus. Kelinci pedaging biasanya berjenis kelinci yang memiliki tubuh lebih besar daripada kelinci hias. (fn/st/aa) www.suaramedia.com

Sumber: Suara Media

Asyiknya Beternak Kelinci Hias!
Jakarta -  26-Feb-2009

Beternak kelinci hias merupakan salah satu usaha yang bisa memberikan keuntungan tersendiri. Tentunya, bila usaha tersebut ditekuni secara serius. Hal ini pula yang dilakukan oleh Ibu Yanti Dwimaryanti (43 tahun). Berawal dari hobi, kini ia menjadi seorang peternak kelinci hias yang cukup dikenal.

Pada Selasa (24/2), BERANI berkunjung ke peternakan kelinci milik Ibu Yanti. Nama peternakannya, Riponti Rabbit. Lokasinya terletak di Jalan Pangkalan Jati V Bawah, Kalimalang, Jakarta Timur.

Ternyata, Ibu Yanti tidak menjalankan usahanya seorang diri. Ia dibantu oleh sang suami, Bapak Bambang Darmo Satrio (48 tahun). Kini, sebagian besar lahan pekarangan di belakang rumah mereka telah “disulap” menjadi peternakan kelinci hias.

“Semua ini berawal pada sekitar tahun 2000. Waktu itu, anak kami gemar membeli kelinci-kelinci hias. Sayangnya, setelah merasa bosan, ia tak lagi merawat kelincinya,” ujar Bu Yanti. Kondisi inilah yang mendorongnya untuk merawat kelinci sang anak. Setelah berhasil mengembangbiakkan, ia pun mencoba menambah jumlah dan jenis kelinci hias koleksinya.

Banyak Belajar
Memasuki tahun 2006, Ibu Yanti mulai berpikir untuk mengembangkan hobinya menjadi sebuah usaha peternakan. Ia pun menambah jumlah kandang di pekarangan rumahnya. Selain itu, ia juga menjual anak-anak kelinci. Menurutnya, usaha beternak kelinci itu menyenangkan. Selain bulunya aman bagi kesehatan anak-anak, biaya perawatan kelinci pun tergolong murah.

Usaha beternak kelinci hias juga mendatangkan banyak keuntungan. Dalam seminggu, biasanya ia mampu menjual 8 hingga 20 ekor kelinci. Harganya pun berkisar antara Rp80.000 hingga Rp600.000. Tak hanya itu! Kotoran kelinci pun bisa diolah menjadi pupuk.

Ragam Kelinci Hias
Hingga kini, ada sekitar sembilan jenis kelinci hias yang terdapat di Riponti Rabbit. Berikut beberapa di antaranya.

Lop. Kelinci ini memiliki ciri khas bentuk telinga yang turun. Jenisnya terbagi lagi dalam holland lop, american fuzzy lop, dan angora lop.

Tan. Ciri khas jenis ini memiliki bulu berwarna hitam dengan kombinasi warna perak maupun oranye pada dadanya.

Rex. Jenis ini sering disebut bulu karpet karena bulunya yang halus. Kelinci ini paling mudah perawatannya karena berbulu pendek.

Angora. Kelinci angora berbulu panjang dengan telinga berdiri. Angora membutuhkan perawatan khusus, seperti menyisir bulu dan sebagainya.

Dwarf. Kelinci ini memiliki ukuran tubuh mini atau kecil. Jenisnya terbagi lagi dalam netherland dwarf dan dwarf hotot.

Liputan/penulis: ITA
Sumber: www.berani.co.id

Peternakan Kelinci Hias, Berawal dari Hobi
Posted by Frans | Medan Talk On December - 4 - 2009

Berawal dari hobi mengoleksi kelinci hias, seorang warga di Mojokerto, Jawa Timur, berhasil mengembangkan hobi tersebut menjadi peternakan kelinci hias. Rahmad Basuki, warga Sidomulyo, Kecamatan Bangsal, mengaku tidak menyangka jika kini dia sudah menjadi peternak dengan omzet jutaan rupiah.

Untuk pemeliharaan, kualitas kebersihan kandang tidak pernah luput dari pengawasan Rahmad. Selain itu, kelinci hias membutuhkan rumput serta makanan tambahan berupa konsentrat dan vitamin. Jika kelinci sudah berumur tujuh bulan, waktunya untuk dikawinkan agar terus berkembang biak. Setiap induk betina mengalami tiga kali masa kawin dalam setahun dan dapat melahirkan tujuh hingga 12 ekor kelinci.

Berbagai macam kelinci hias kini dapat ditemukan di peternakan milik Rahmad, di antaranya dutch, fuzylop, anggora Inggris, dwarf, dan kelinci impor lainnya. Dari koleksi yang ada, Rahmad rata-rata menjual Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu per pasang. Sedangkan setiap induk yang siap kawin dijual dengan harga Rp 1 juta hingga Rp 5 juta per pasang. (Sumber: liputan6)

Sumber: www.medantalk.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar